Permendikbud No 50 Tahun 2015 Tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Sebagai Penyempurnaan Permendiknas No 46 Tahun 2009

Permendikbud No 50 Tahun 2015 Tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia

ANIES BASWEDAN selaku Permendikbud, dalam keputusannya, Nomor 50 Tahun 2015 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia, menetapkan bahwa :

  1. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia dipergunakan bagi instansi pemerintah, swasta, dan masyarakat dalam penmggunaan bahasa Indonesia secara baik dan benar.
  2. Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
Sesuai dengan Peraturan Menteri tersebut dan dengan diberlakukannya Permendikbud No 50 Tahun 2015, maka Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 46 Tahun 2009 tentang Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.


Berikut isi Lampiran Permendikbud No 50 Tahun 2015 :
I. PEMAKAIAN HURUF
Terdiri atas :
  1. Huruf Abjad
  2. Huruf Vokal
  3. Huruf Konsonan
  4. Huruf Diftong
  5. Gabungan Huruf Konsonan
  6. Huruf Kapital
  7. Huruf Miring
  8. Huruf Tebal
II. PENULISAN KATA
Terdiri atas :
  1. Kata Dasar
  2. Kata Berimbuhan
  3. Bentuk Ulang
  4. Gabungan Kata
  5. Pemenggalan Kata
  6. Kata Depan
  7. Partikel
  8. Singkatan dan Akronim
  9. Angka dan Bilangan
  10. Kata Ganti
  11. Kata Sandang
III. PEMAKAIAN TANDA BACA
Terdiri atas :
  1. Tanda Titik (.)
  2. Tanda Koma (,)
  3. Tanda Titik Koma (;)
  4. Tanda Titik Dua (:)
  5. Tanda Hubung (-)
  6. Tanda Pisah (-)
  7. Tanda Tanya (?)
  8. Tanda Seru (!)
  9. Tanda Elipsis (...)
  10. Tanda Petik ("...)
  11. Tanda Petik Tunggal ('...')
  12. Tanda Kurung ((...))
  13. Tanda Kurung Siku ([...])
  14. Tanda Garis Miring (/)
  15. Tanda Penyingkat atau Apostrof (')
IV. PENULISAN UNSUR SERAPAN
Dalam perkembangannya bahasa Indonesia menyerap unsur dari berbagai bahasa, baik dari bahasa daerah, seperti bahasa Jawa, Sunda, dan Bali, maupun dari bahasa asing, seperti bahasa Sanskerta, Arab, Portugis, Belanda, Cina, dan Inggris. Berdasarkan taraf integrasinya, unsur serapan dalam bahasa Indonesia dapat dibagi menjadi dua kelompok besar. Pertama, unsur asing yang belum sepenuhnya terserap ke dalam bahasa Indonesia, seperti force majeur, de facto, de jure, dan l’exploitation de l'homme par l'homme. Unsur-unsur itu dipakai dalam konteks bahasa Indonesia, tetapi cara pengucapan dan penulisannya masih mengikuti cara asing. Kedua, unsur asing yang penulisan dan pengucapannya disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia. Dalam hal ini, penyerapan diusahakan agar ejaannya diubah seperlunya sehingga bentuk Indonesianya masih dapat dibandingkan dengan bentuk asalnya.

Untuk lebih jelas dan detailnya, tentang Permendikbud No 50 Tahun 2015, simak tautan berikut INI.

Label:
Reaksi:

Posting Komentar

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget